Segala sesuatu yang berhubungan dengan diri kita bisanya lebih menarik, bahkan selalu menarik. Biasanya kita akan langsung memberikan respon bagi hal tersebut. Tanpa berpikir panjang apakah respon tersebut memiliki dampak baik atau buruk, respon akan muncul selalu “tepat waktu”. Secara biologis memang begitulah adanya. Ketika stimulus ditangkap oleh sel syaraf melalui dendrit, secara langsung pesan akan dibawa ke otak, dan otak sebagai organ tercerdas dalam tubuh kita akan memerintahkan organ yang lain untuk memberikan respon. Kalau tidak salah ingat, kira-kira begitulah cerita guru biologi zaman SMA dulu. Kalau salah, harap dimaklumi karena itu sudah 10 tahun yang lalu…
Well, kita tidak sedang belajar biologi lagi kali ini, tapi mungkin lebih cocok kalau masuk kategori psikologi. Pada kalimat-kalimat awal tulisan ini, itu adalah ulasan dari sisi psikologis. Kalau ditinjau lebih lanjut, ulasan psikologis itu tidak hanya berhenti sampai setelah respon ditunjukkan. Ulasannya bahkan bisa lebih menarik jika muncul pertanyaan-pertanyaan seperti: mengapa respon yang diberikan seperti itu? Layakkah itu? Baikkah itu? Normalkah itu? Dan seterusnya. Selama respon tersebut terlihat layak dan baik menurut norma yang umum, hal tersebut berarti normal. Selanjutnya, pertanyaannya adalah walaupun ada norma yang eksis dan dijadikan pegangan bagi sekelompok orang, apakah itu juga berlaku pada diri setiap orang? Kembali ke contoh batasan respon normal dan tidak tadi, apakah hal yang normal-normal saja bagi satu orang akan demikian pula adanya pada orang lain???
Sepertinya nuansa psikologis dalam tulisan ini sudah “mulai terasa” bahkan terasa ada sedikit bumbu filsafat masuk ke dalamnya. Karena filsafat katanya mother of science, kita tidak usah melanjutkan untuk membahas bagaimana ia menggurita dalam kajian-kajian ilmu lainnya, termasuk psikologi.
Kembali ke topik, berdasarkan dua paragraph di atas, yang dikaji secara psikologis dalam tulisan ini adalah bagaimana jika ternyata muncul ungkapan: “Saya betul-betul tidak menyangka dia melakukan hal itu”. Maka hal ini kemungkinan berarti:
1. Respon yang muncul bisa jadi dianggap tidak normal, tidak sesuai dengan norma pada umumnya.
2. Respon yang muncul tidak seperti respon yang biasanya muncul.
3. Kesalahan persepsi dalam mengidentifikasi respon. Respon yang muncul tidak sesuai dengan harapan atau perkiraan.
Jika demikian, tulisan ini akan dilanjutkan dengan memasukkan bumbu-bumbu teori psikologi ke dalammya.
Dalam teori ilmu psikologi kepribadian, misalnya seperti yang diutarakan oleh Karl Gustav Jung bahwa pada umumnya secara normal terdapat empat tipe kepribadian, yaitu Choleric, Plegmatic, Sanguin dan Melankolic. Menurut Jung hal ini berarti bahwa berdasarkan norma, yang dianggap baik, wajar dan normal adalah empat tipe tersebut. Jika diluar itu, berarti sebaliknya, tidak normal, tidak wajar dan tidak baik.
Well, diri kita termasuk tipe yang mana? Adakah salah satunya? Atau mix antara dua, tiga, atau keempat tipe sekaligus??? :)
Masih dengan tambahan bumbu teori psikologi lainnya yang menyakini individual differences, saya akhirnya setuju dan menyimpulkan bahwa: meskipun secara umum setiap orang memiliki tipe kepribadian tertentu, namun itu tidak menutup kemungkinan bahwa respon yang ditunjukkan dalam perilaku akan memunculkan hal yang sama pada orang yang satu dengan yang lainnya.
Saya tidak pernah menyangka bahwa perilaku yang ditunjukkan seorang kawan akan seperti itu karena menurut saya itu tidak wajar dan tidak normal bagi seseorang dengan tipe kepribadian sepertinya. Saya mengira stimulus yang saya berikan akan memunculkan respon tertentu untuk orang seperti dia, namun kenyataanya saya salah besar. Tidak demikian adanya. Walaupum memiliki kesamaan bahkan identik sekalipun, namun pada hakikatnya setiap orang adalah berbeda dengan keunikannya masing-masing.
Jadi kesimpulannya adalah:
• Pada orang-orang yang dapat digolongkan dalam tipe kepribadian yang sama, belum tentu akan memunculkan respon yang sama meskipun stimulusnya juga sama.
• Semakin penting dan semakin kuat ketertarikan terhadap sesuatu dalam diri kita, maka semakin besar kualitas respon yang diberikan (diluar respon tersebut, baik/buruk, wajar/tidak wajar, normal/tidak normal).
Voila, akhirnya jadi juga satu resep ini :)
Karena belum dicicipi, harap dimaklumi jika rasanya jauh dari sempurna dan masih perlu banyak ditambah bumbu ini dan itu. Tulisan ini terinspirasi berdasarkan pengalaman penulis dan obrolan ngalor ngidul sambil sharing dengan seorang kawan.
Terima kasih telah meluangkan sedikit waktu untuk membaca, jangan lupa tinggalkan jejak :)
